Breaking News

Thursday, August 27, 2020

Anggota Komisi IX: Kehadiran dr Reisa di Satgas Dapat Tingkatkan Imunitas

dr. Reisa Broto Asmoro. Foto: Gugus Tugas
KERINCIEXPOSE.COM - Anggota Komisi IX dari Fraksi PAN Saleh Partaonan Daulay menyoroti soal perombakan personel dari Gugus Tugas COVID-19 ke Satgas COVID-19. Dalam rapat kerja bersama satgas COVID-19, Saleh menyayangkan dr Reisa Broto Asmoro kini tak tampil lagi di konferensi pers rutin. 

"dr Reisa ternyata enggak masuk lagi, Pak Doni. Ini kan jadi menurunkan keseriusan masyarakat untuk menonton, gitu lho. Karena kalau ada Reisa itu, setidaknya dapat meningkatkan imunitas," canda Saleh sambil tertawa, di Gedung DPR RI, Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (27/8). 

Sebenarnya dr Reisa masih masuk jajaran Satgas Covid-19. Dia kini berperan sebagai Duta Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB). 

Selain Reisa, Saleh juga menyayangkan nama Achmad Yurianto yang awalnya tidak ada lagi di jajaran Satgas COVID-19. Nama Yuri, baru masuk kembali setelah ada perombakan struktur organisasi Satgas COVID-19.

"Jadi ini seakan-akan Achmad Yurianto ini dipecat gitu lho dari gugus tugas. Dulu kan di gugus tugas tuh, begitu berganti jadi satgas, enggak ada nama dia. Dipecat orang Kemenkes dari penanganan kesehatan di Indonesia, kan aneh itu. Nah, sekarang sudah masuk lagi," tuturnya.

Namun, kata Saleh, nama Yuri baru masuk kembali setelah muncul banyak kritik di masyarakat. Sebab, menurutnya, sangat aneh jika penanganan kesehatan di Indonesia tidak melibatkan orang-orang dari Kementerian Kesehatan.

"Terakhir Pak Erick menyebut soal dihilangkannya orang Kemenkes dari satgas yang sekarang dimasukkan. Setelah orang kritik itu. Setelah ribut di sana sini, saya langsung telepon juga beberapa orang, termasuk saya telepon Pak Yuri, Pak Menkes juga saya bisikin itu, Sekjen saya bisikin juga itu," ungkap Saleh.

Meski pun, ia menyebut, sebenarnya tidak perlu spesifik memasukkan kembali Achmad Yurianto di jajaran pengurus di Satgas COVID-19. Yang penting, kata dia, harus ada orang-orang Kemenkes di Satgas COVID-19.

"Jadi bukan soal orangnya, tapi lembaga ini harus masuk di situ. Apakah nanti Prof Kadir, Pak Sekjen, atau Bu Irjen, itu enggak masalah. Jangan sampai ditinggalkan Kemenkes. Enggak-enggak aja kerja kita di republik ini. Urusan kesehatan dikerjakan orang yang enggak ngerti kesehatan. Kan aneh itu," pungkasnya. 

Sumber : Kumparan

No comments:

Post a Comment