Breaking News

Friday, June 8, 2018

Catatan Zainal Abidin (4): Zainal Abidin Anak Desa


DESA adalah tanah kelahirannya, Zainal dan keluarga tidak pernahir di tengah-tengah kota metropolitan yang selalu menawarkan kehidupan secara lengkap, karena ada cara yang tepat untuk menyesuaikan udara alam desa yang ditumbuhi berbagai macam pepohonan di perbukitan sekitar, terlahir dari orang tua yang berprofesi petani di Desa Koto Iman, Kecamatan Danau Kerinci, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi, desa yang terkenal dengan ajaran agama dan selalu mengedepankan Nilai-nilai yang masih terawat utuh, bahkan di era globalisasi yang berjalan sangat bebasnya sama sekali tidak mengubah adat istiadat orang-orang desa tersebut.

Terlahir di desa kesulitan penghalang bagi Zainal, namun menjadi anugerah yang teramat besar. Bagaimana tidak, desa selalu menawarkan penuh dengan kedamaian, kesederhanaan dan ketenangan, jauh dari kebisingan dan representasi hiruk pikuk perkotaan dengan gedung-gedung megah pencakar langitnya. 

Alam yang terawat dan orangnya yang ramah tamah seloh-seakan pula, berkat didikan agama sedari kecil seperti pengajian Al-Quran setiap sakit dan setelah sholat maghrib, muhadarah, didikan subuh yang selalu dilaksanakan di Desa Koto Iman. 

Zainal bernyanyi anak-anak desa tumbuh dan besar dari lingkungan desa yang masih mempertahankan nilai-nilai pendidikan, adat isitiadat dari leluhur, makanan dan minuman keseharian adalah buah hasil alam yang menjanjikan, sawah yang terbentang luas perkebunan yang menghasilkan sayuran dan ikan segar yang sangat mudah ditemukan di Danau Kerinci adalah tempat ber-agama untuk kehidupan sehari-hari, tak jarang desa juga menjadi pendorong pertumbuhan utama ekonomi dan penyumbang pangan di negeri ini. 

Zainal Abidin adalah anak desa, ia adalah anak desa yang kini memberikan warna bagi khalayak umum, terkhusus bagi masyarakat Kabupaten Kerinci sendiri. Kesederhanaan dan ketenangan adalah jiwanya, ia selalu berpikir secara matang dan lebih memusatkan pikirannya dalam bertindak, ia paham bahwa kecerobohan menandakan otak yang kosong, anak-anak ini adalah harapan dan masyarakat ke depan. 
Sejak muda, ia terus mengabdikan diri menjadi yang terdepan dalam setiap kegiatan-kegiatan di desa, selalu aktif dan hampir tak pernah ketinggalan dalam menyukseskan acara formal dan non formal di lingkungan desa tersebut. 

Dari sinilah ia belajar bahwa kehadiran kita tidak untuk berdiam diri selalu diperlukan untuk dimanapun dan kapanpun, ia adalah pemuda yang selalu siap dan selalu hadir di berbagai kesempatan pada waktu itu. Sejak hidup di desa ia selalu menjadi pemikir dan penggerak, tidak hanya menjadi pemikir tanpa bergerak, begitu pula sebaliknya. 

Bagaikan Sekeping Cahaya dari Sudut Desa

Ia bagaikan sekeping caya dari sudut desa, pemuda yang tumbuh dan berkembang dari desa. Pemuda kebanggaan desa yang haus dengan ilmu pengetahuan, pemuda yang memiliki tekad dan darah yang tinggi untuk berkontribusi membangun kehidupan bermasyarakat dengan karya-karya nyata yang hadirnya bagaikan cahaya yang datang dari sudut desa, kemudian menyapa kegelapan kesunyian di tengah-tengah hiruk pikuk metropolitan.

Pemuda yang berani dan bangkit dari keterpurukan hampa, Zainal Abidin memang hanya anak-anak desa, namun perjuangannya tak ubahnya seperti mereka-mereka yang mereka berikan untuk orang lain, semangatnya dalam mengabdikan diri demi terciptanya kesejahteraan sesama, tak ubahnya seperti pepohonan yang tak mampu ditumbangkan oleh angin badai. 
Anak desa itu muncul ke permukaan untuk berkarya, berinovasi dan berkreativitas. Ia mengakomodasi pemuda yang ketinggalan zaman, namun ia adalah pemuda yang terus mewarnai zaman dengan karyanya, bukan pemuda yang terwarnai oleh perkembangan zaman. Mereka tidak muncul untuk sadar, namun karena kesadaran diri sendiri, resah dan gelisah dengan keadaan yang ada. 
Terlahir dari desa bebas sebah batu pengalang untuk membuat, tidak ada yang bisa mewarnai dunia, orang-orang muda yang kreatif dan inovatif yang memberikan cahaya dan warna untuk dunia, mereka membuktikan bahwa anak-anak juga mampu mencapai prestasi yang gemilang. Desa memang tak sederajat, tidak mungkin bagi kita yang mampu berkompetisi dengan yang lainnya. 

Dari sudut desa ia berasal dari keterpurukan, berbekal dari berbagai gejolak yang berlalunya bagi anak-anak desa ini yang menyadari bahwa anak-anak desa perlulah dibekali dengan berbagai macam bentuk disiplin ilmu pengetahuan, agar menjadi produktif dan berjalan ke arah yang lebih baik lagi, dan di era saat ilmu pengetahuan dan tekhnologi yang tidak menguntungkan anak-anak desa, dengan hal ini pula kian hari kian merenggut nasib anak-anak desa. 

Ia sering berpikir apa yang menjadi sebab desa-desa yang bernasib demikian, tetapi ia juga mengatakan bahwa pangkal mulanya adalah ilmu pengetahuan yang kemudian bertumpu pada sistem pembangunan Negara dan daerah yang tidak menarik sendi-sendi kerakyatan. Ia juga mengembangkan pembangunan yang memungkinkan orang-orang kesejahteraan, orang-orang dewasa harus membuat laporan, pengembangan sistem harus menjadi pemodal, investor dan kota saja tapi berimbas pada pelosok desa. 

Sistem pembangunan haruslah merakyat dari pelosok hingga kota jika setiap sendi-sendi tersentuh dari sistem yang ada maka tentu saja akan tercipta juga bagi setiap warga negara. Pemerintah harus mengatakan bahwa pada tingkat makro ekonomi tetapi pada tingkat mikro itu omong kosong, perubahan itu tidak membuat kesejahteraan bagi rakyat. Lihatllah, biaya pendidikan kita saja misalnya alih-alih menjadi gratis, yang terjadi saat ini malah semakin mahal dan kian melangit.

Mengamati fakta-fakta yang bergulir dari bagaimana mungkin kesejahteraan dan tatanan kehidupan bangsa yang besar ini akan berubah ke arah yang lebih baik lagi, tidak jarang anak-anak di desa ini geram, kesal bahkan frustasi melihat kondisi tersebut. 

Berbekal dari ketimpangan yang terjadi bernyanyi anak-anak ini keluar dan maju ke depan berjuang dengan jiwa dan raga untuk Mengubah dan membuat sistem yang lebih merakyat.
Ia ingin memastikan bahwa untuk hal-hal yang besar dari waktu yang tepat, tidak jarang ia kerap turun ke desa-desa menemukan sendi-sendi yang tidak tersentuh menjadi pendengar yang baik, merasakan apa yang dinikmati oleh rakyat, demi sebuah solusi dari setiap masalah yang ada. Karena ia juga merupakan kekayaan yang dirasakan anak-anak desa. 

* Dikutip dari Buku Perjalanan Sang Anak Desa: Zainal Abidin, SH, MH (Inspirasi untuk Semua Kalangan) oleh Priyoga Utama

No comments:

Post a Comment