Opini Musri Nauli: Kesaktian Kitab Tanjung Tanah (3)

Opini Musri Nauli: Kesaktian Kitab Tanjung Tanah (3) 

Musri Nauli 

Setelah Uli Kozok menceritakan tentang Kerinci maka pada kesempatan kali ini, Uli Kozok menceritakan sedikit tentang  latar belakang tentang Kitab Tanjung Tanah. 

Naskah Tanjung Tanah sebetulnya “ditemukan” dua kali, pertama di tahun 1941 oleh Petrus Voorhoeve yang pada saat itu menjabat sebagai taalambtenar (pegawai bahasa di zaman kolonial) untuk wilayah Sumatra, dan kedua kali oleh Uli Kozok di tahun 2002. 

Sebagai taalambtenar, Petrus Voorhoeve dua kali mengunjungi Kerinci di bulan April, dan sekali lagi di bulan Juli 1941, untuk mendaftarkan naskah Kerinci yang merupakan bagian dari pusaka yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Kerinci. 

Semua naskah yang ditulis di tanduk kerbau atau tanduk kambing dan juga naskah yang ditulis pada ruas bambu yang panjang dengan menggunakan surat incung – variasi surat ulu yang digunakan di  Kerinci – disalin atau langsung ditransliterasi

Sementara naskah kertas, kulit kayu, dan daluang difoto, dan naskah daun lontar yang bertuliskan “sejenis aksara Jawa” disalin dengan sangat teliti. 

Di kediamannya di Kabanjahe, Sumatra Utara, V oorhoeve menyelesaikan transliterasi naskah-naskah Kerinci dibantu oleh Abdulhamid – seorang guru sekolah dari Kerinci. 

Ketika V oorhoeve dipanggil untuk menjalankan wajib militer pada 8 Desember 1941 sekretarisnya mengetik daftar ke-252 naskah Kerinci setebal 181 halaman yang diberi judul Tambo Kerinci.

Kemudian keenam salinan tersebut dikirim ke Kerinci, Batavia (Jakarta), dan Belanda. 

Ternyata pada saat itu Jepang menyerang Hindia-Belanda, dan salinan yang dikirim ke Bataviaasch Genootschap (Lembaga Kebudayaan Indonesia) serta ke perpustakaan KITLV di Belanda tidak pernah tiba di tempat tujuannya. Sementara salinan yang dikirim ke Kerinci juga dianggap hilang. 

Yakin Tambo Kerinci memang hilang, Voorhoeve menerbitkan daftar sementara naskah Kerinci.

Lebih dari tiga puluh tahun kemudian diketahui bahwa salinan yang dikirim ke Kerinci ternyata sampai, dan ditemukan kembali oleh seorang antropolog Inggris di tahun 1975.  Barbara Watson Andaya. 

Barbara Watson Andaya lalu membawanya ke Belanda dan menyerahkannya kepada Voorhoeve. 

Setelah Watson menemukan Tambo Kerinci dan mengirimnya ke Leiden, Voorhoeve juga tidak menulis lagi tentang naskah tersebut. 

Menurut Uli Kozok, Voorhoeve tidak lagi menaruh perhatian pada naskah Tanjung Tanah mungkin karena dikiranya bahwa naskah itu barangkali sudah hilang selama masa perang dan revolusi. 

Sementara itu, Uli Kozok  pada Juli 2002 pertama kali berkunjung ke Tanjung Tanah dan menemukan naskah daluang masih dalam keadaan seperti diceritakan oleh Voorhoeve. Ternyata naskah tersebut tetap bertahan dan tidak diganggu oleh perang, revolusi, kobaran api, atau gempa bumi. 

Advokat. Tinggal di Jambi