Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Perjalanan Ke Bangko

 

Musri Nauli

Lagi-lagi saya dikagetkan dengan semakin mulusnya jalan dari Jambi ke Bangko. 

Hanya ditinggalkan seminggu sebelumnya, jalan semakin mulus dan semakin nyaman dikendarai. 

Jangan tanya jalan Ness. Kendaraan dipacu hingga mantap mengendarai. 

Setelah melewati Muara Bulian kemudian menyusuri dan melewati jalur pintas (jalur motong) melewati jalan Cempaka Putih, setelah Cadika Batanghari yang kebetulan berdekatan dengan Danau Letang, sempat adanya 2 buah tempat lubang yang menganga. 

Jalur “ikonik” yang sejak 10 tahun terakhir sama sekali tidak tersentuh. Lubang menganga. 

Rasanya baru seminggu yang lalu melewatinya. Senin minggu yang lalu usai sidang di Sarolangun. 

Namun alangkah kagetnya saya. Ternyata selain sudah discrap rata dengan jalan juga sangat nyaman dikendarai. 

Setelah berbelok kiri dari Cempaka Putih, lubang-lubang menganga yang memaksa harus berjalan Pelan ternyata sudah nyaman discrap. Termasuk juga sudah diaspal. 

Sedikit lubang-lubang Kecil didepan (bekas) Rumah Makan Bayang Bulian 2. 

Selain itu “jalan sedikit lambat” melewati Rumah Makan Soto Jakarta di Tenam (Terusan). 

Menjelang jembatan timbang dekat Tembesi, memang harus antri. Selain mobil besar terutama angkutan truk yang tidak bisa dipacu kencang, praktis harus pelan-pelan. 

Lagi-lagi saya kemudian dikagetkan. Lubang menganga sebelum Rumah Makan Salero Bundo yang “terkenal lubang mautnya’, ternyata mulus. Praktis nyaman dikendarai. 

Dua jalur Ikonik yang selama ini praktis sama sekali tidak dikerjakan malah sekarang tidak ada “jejak” sama sekali yang menampakkan lubang menganga sebelumnya. 

Benar-benar kaget saya dibuatnya. 

Hampir 2 tahun terakhir ini, jalur-jalur yang saya sebutkan praktis saya tempuh. Setiap minggu. 

Perjalanan Sidang di Muara Bulian, kemudian dilanjutkan ke Bangko dan kemudian ke Sarolangun walaupun harus juga ke Bangko membuat setiap denyut perubahan jalan yang ditempuh membuat saya hapal. 

Dimana lubang-lubang menganga. Ataupun jalan yang kemudian “ditambal” atau “discrap”. 

Praktis hanya setahun, berbagai jalur maut, jalur ikonik sekarang hanya tinggal cerita. Termasuk juga perubahan setiap minggu pengerjaan jalan yang terus dibenahi. 

Dan dengan tersenyum, saya kemudian semakin mantap untuk menempuh perjalanan sidang ke Sarolangun ataupun ke Bangko. 

Selain menunaikan tugas, menikmati perjalanan yang praktis Sudah nyaman dikendarai membuat waktu perjalanan sekarang dapat dihitung dengan tepat.