Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Opini: Maraknya Sekolah Tahfiz dan Pertanyaan tentang Orientasi Yayasan Pendidikan

 

Oleh: Dr. Edi Putra Jaya, S.Pd.I, MA.

Akademisi, Peneliti dan Dosen Manajemen Pendidikan Islam

Dalam beberapa waktu terakhir, masyarakat di berbagai daerah menyaksikan fenomena yang nyaris serupa: yayasan pendidikan tumbuh cepat dan berlomba-lomba mendirikan sekolah tahfiz Al-Qur’an. Di satu sisi, geliat ini tampak sebagai kebangkitan semangat keagamaan dan respons atas keresahan orang tua terhadap krisis moral generasi muda. Namun di sisi lain, kecepatan pendirian lembaga yang nyaris seragam, pola promosi yang mirip, serta kesiapan institusional yang sering kali belum matang, memunculkan pertanyaan yang wajar diajukan publik: apakah geliat ini sepenuhnya didorong oleh idealisme pendidikan, ataukah ada orientasi lain yang ikut menggerakkannya?

Tidak dapat dipungkiri, pendidikan tahfiz memiliki nilai strategis dalam membentuk generasi yang dekat dengan Al-Qur’an. Menghafal Al-Qur’an adalah amal mulia dan tradisi luhur dalam Islam. Karena itu, kehadiran sekolah tahfiz sejatinya patut diapresiasi. Akan tetapi, ketika pendirian lembaga berlangsung secara masif, cepat, dan minim kesiapan akademik, kewaspadaan justru menjadi bagian dari tanggung jawab publik. Pendidikan, betapapun bernuansa religius, tetap membutuhkan tata kelola yang matang dan akuntabel.

Fenomena ini semakin menarik ketika sekolah tahfiz tidak jarang dijadikan “etalase keislaman” yayasan. Label tahfiz kerap tampil dominan dalam promosi, sementara aspek fundamental pendidikan—kurikulum yang seimbang, kualifikasi guru, sistem evaluasi, serta keberlanjutan pembiayaan—kurang mendapat perhatian yang memadai. Dalam kondisi seperti ini, pendidikan berisiko direduksi menjadi simbol, bukan proses pembelajaran yang utuh.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah soal orientasi yayasan pendidikan. Dalam praktiknya, tidak semua yayasan lahir dari visi keilmuan dan pengabdian jangka panjang. Sebagian berdiri dengan perencanaan yang lemah, bergantung pada donasi sesaat, atau bahkan terjebak pada logika proyek. Ketika pendidikan dikelola dengan pendekatan proyek, maka yang dikejar bukan lagi kualitas lulusan, melainkan keberlangsungan pendanaan dan citra kelembagaan. Di sinilah pendidikan—termasuk pendidikan tahfiz—rawan kehilangan ruhnya.

Dari perspektif manajemen pendidikan, pendirian lembaga seharusnya berangkat dari kebutuhan riil masyarakat dan kesiapan institusional. Sekolah tahfiz idealnya tidak hanya menghasilkan hafiz yang kuat secara hafalan, tetapi juga peserta didik yang matang secara intelektual, emosional, dan sosial. Tanpa manajemen yang jelas, pendidikan tahfiz berpotensi melahirkan generasi yang religius secara simbolik, tetapi rapuh dalam daya pikir dan adaptasi sosial.

Kegelisahan ini bukan ajakan untuk mencurigai setiap yayasan, apalagi menafikan niat baik para pengelolanya. Sebaliknya, ini adalah seruan agar idealisme pendidikan dijaga dari godaan pragmatisme. Yayasan pendidikan memikul amanah besar, bukan hanya kepada orang tua dan peserta didik, tetapi juga kepada nilai-nilai Islam itu sendiri. Ketika Al-Qur’an dijadikan identitas lembaga, maka tanggung jawab moralnya justru berlipat ganda.

Peran negara dan masyarakat juga tidak kalah penting. Regulasi, pengawasan, dan pendampingan terhadap yayasan pendidikan perlu diperkuat agar semangat keagamaan tidak dimanfaatkan secara keliru. Masyarakat pun perlu lebih kritis dalam memilih lembaga pendidikan, tidak semata terpesona oleh label tahfiz, tetapi juga memperhatikan kualitas pengelolaan dan visi pendidikannya.

Pada akhirnya, maraknya sekolah tahfiz seharusnya menjadi momentum untuk memperbaiki tata kelola pendidikan Islam, bukan sekadar euforia simbolik. Pendidikan tahfiz akan menjadi cahaya peradaban jika dikelola dengan amanah, visi keilmuan, dan kejujuran niat. Namun, jika terjebak dalam orientasi proyek dan pencitraan, ia justru berisiko meredupkan makna pendidikan itu sendiri. Di titik inilah publik berhak bertanya, dan para pengelola berkewajiban menjawab—bukan dengan slogan, tetapi dengan kualitas nyata.