Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Tips Atasi Kram Setelah Melahirkan dan Saat Menyusui

KERINCIEXPOSE.COM - Setelah melahirkan dan masuk masa menyusui, ada beberapa kondisi yang umum dirasakan seorang ibu. Seperti rambut rontok, hingga badan terasa kram. 


Walaupun begitu, tak perlu khawatir, Moms. Sebab hal tersebut sangat wajar terjadi pada ibu setelah melahirkan, baik persalinan secara normal maupun operasi caesar.

Kerontokan rambut pada ibu yang baru melahirkan umumnya tergolong normal. Namun cepat atau lambat, keadaan ini akan membaik dan rambut Anda bisa kembali tumbuh.

Sementara itu, badan kram juga banyak dialami oleh ibu usai melahirkan. Rasa kram tidak selalu terasa pada kaki saja, tapi juga bisa dirasakan pada bagian tubuh yang lain pula. Seperti pada punggung, perut, pinggul, serta dada.

Rasa kram pada kaki yang dialami usai melahirkan biasanya disebabkan oleh ketidakseimbangan mineral selama kehamilan. Itu alasan kenapa ibu hamil harus sering berjalan kaki untuk membantu meningkatkan peredaran darah pada kaki.

Lain halnya bila Anda merasakan kram atau rasa nyeri di bagian punggung usai melahirkan. Biasanya, stres fisik yang dirasakan saat persalinan jadi penyebab otot punggung sakit. Selain itu, kelebihan berat badan juga dapat meningkatkan risikonya, Moms.

Namun jika Anda mengalami kram atau nyeri pada perut bagian atas dan bawah usai melahirkan, hal itu disebabkan akibat kontraksi rahim yang berkepanjangan saat masa persalinan. Tak hanya kontraksi rahim, proses menyusui juga dapat memicu kram pada bagian perut Anda.

Kendati demikian, jangan cemas ya, Moms. Ada berbagai cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi rasa kram yang dialami setelah melahirkan dan saat menyusui. Di antaranya dengan mengompres dengan air hangat atau berikan pijatan lembut pada bagian yang kram. Selain itu, Anda juga bisa mengatasinya dengan mengonsumsi vitamin B12.

Manfaat Vitamin B12 untuk Ibu Menyusui

Selain dapat menjaga kesehatan dan mempercepat pemulihan kondisi tubuh usai melahirkan, mengonsumsi vitamin B12 juga dapat meredakan nyeri otot termasuk kram, sekaligus berfungsi untuk membentuk protein baru yang bertindak sebagai pembentuk energi dalam tubuh. Vitamin B12 juga memiliki manfaat untuk memperbaiki sel-sel yang rusak dalam tubuh bayi.

Dilansir Very Well Family, vitamin B12 dibutuhkan bayi untuk pertumbuhan sel dan pertumbuhan serta perkembangan sistem saraf. Vitamin B12 juga bekerja sebagai antioksidan yang meminimalkan kerusakan sel dan menjamin kesehatan tubuh bayi.

Merujuk pada Centers for Disease Control and Prevention, vitamin B12 ditransfer melalui ASI setelah lahir. Bayi yang minum ASI dari ibu yang mengonsumsi vitamin B12 dalam jumlah yang cukup, vitamin B12 akan terpenuhi. Sebaliknya, jika ibu menyusui kekurangan vitamin B12, bayinya juga tidak akan bisa mendapatkan manfaat dari vitamin ini.

Moms, untuk memastikan si kecil tumbuh lebih optimal dengan mendapatkan asupan ASI yang baik dan mengandung B12 yang cukup, Anda bisa mengonsumsi suplemen tambahan seperti Lactamor.

Lactamor adalah suplemen pelancar ASI yang mengandung berbagai macam bahan alami seperti biji fenugreek. Berguna untuk menstimulasi produksi ASI, biji fenugreek memiliki kandungan phytoestrogen dan diosgenin di dalamnya.

Selain itu, Lactamor juga mengandung daun katuk. Memiliki senyawa sterol dan asam sekuistema, membuat daun katuk sudah tidak asing lagi bagi ibu menyusui karena dapat membantu memperbanyak produksi ASI. Tidak heran, sejak dulu daun katuk kerap jadi santapan favorit para ibu, baik dikonsumsi dalam bentuk kapsul atau olahan makanan.

Lactamor juga mengandung 20 mcg vitamin B12 yang berperan penting dalam pembentukan sel darah merah dan perkembangan jaringan saraf tubuh. Nah, adanya vitamin ini sangat penting untuk mengatasi kram serta dapat meningkatkan produksi sel darah merah yang sangat dibutuhkan dalam proses menyusui.

Jadi tidak khawatir lagi asupan ASI anak tidak tercukupi kan, Moms? Yang perlu diperhatikan, selalu ikuti anjuran dokter dan pastikan mengonsumsinya Lactamor saat ditemukan tanda-tanda penurunan produksi ASI yang drastis.

Sumber: Kumparan